
Cerita Mesum Risca adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki tubuh yang sekali dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya tergerai lurus sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.
Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di ibukota, sedang kakakkakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Risca seorang diri di rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri ternama di kota itu.
Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Risca sangat gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya seharihari. Rok abuabu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.
Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para lakilaki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah Risca. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadisgadis cantik dan seksi melintas di hadapannya.
Sosok pribadi Risca memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan Risca dari jalan besar menuju ke kediaman Risca yang masuk ke dalam gang.
Suatu sore, Risca pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintikrintik, keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat birahinya kepada Risca. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Risca nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati seharihari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.
Lho koq lewat sini Pak?, tanya Risca.
Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup, bujuk Parno sambil terus mengayuh becaknya.
Dengan sedikit kesal Risca pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tibatiba Parno membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
Lho kenapa masuk sini Pak?, tanya Risca.
Hujan.., jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengahtengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai lagi, palingpaling sesekali dipakai untuk gudang warga. Keadaan seperti ini membuat Risca menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat waswas dan gelisah.
Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basahbasahan sama air hujan mending kita basahbasahan keringat.., ujar Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Risca yang masih duduk di dalam becak.
Bagai tersambar petir Riscapun kaget mendengar ucapan Parno tadi.
A.. Apa maksudnya Pak?, tanya Risca sambil terbengongbengong.
Non cantik, kamu mau ini? Parno tibatiba menurunkan celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.
Risca terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.
J.. Jaangan Pak.. Jangann.. pinta Risca dengan wajah yang memucat.
Sejenak Parno menatap tubuh Risca yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abuabu seragam SMUnya kedua paha Risca yang putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih seragamnya yang berukuran ketat.
Ampunn Pak.. Jangan Pak.., Risca mulai menangis dalam posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang semakin mendekati tubuhnya.
Tubuh Risca mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha Risca, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Risca.
Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann.., Risca merontaronta dengan menggerakgerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin menjadijadi, dicengkeramnya eraterat kedua paha Risca itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Risca.
Risca pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Risca. Tubuh Risca menggeliat ketika tangantangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal paha Risca, dan wajah Risca menyeringai ketika jarijemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.
Iihh.., pekikan Risca kembali menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.
Tubuh Risca menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorekngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan pembuka ini. Ditatapnya wajah Risca yang megapmegap dengan tubuh yang menggeliatgeliat akibat jari tengah Parno yang menarinari di dalam lubang kemaluannya.
Cep.. Cep.. Cep.., terdengar suara dari bagian selangkangan Risca. Saat ini lubang kemaluan Risca telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan dan jarijari Parno.
Puas dengan adegan pembuka ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Risca. Risca nampak terengahengah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian menarik tubuh Risca turun dari becak, gadis itu dipeluknya eraterat, kedua tangannya meremasremas pantat gadis itu yang sintal sementara Risca hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Risca sambil terus meremas remas pantat gadis itu.
Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Risca yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.
Eemmgghh.. Mmpphh.., Risca mendesahdesah di saat Parno melumat bibirnya. Dikulumkulum, digigitgigitnya bibir Risca oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
Oohh.. Eenngghh.., Risca mengerangngerang di saat lehernya dikecup dan dihisaphisap oleh Parno.
Cengkeraman Parno di tubuh Risca cukup kuat sehingga membuat Risca sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal inilah yang membuat Risca pasrah di hadapan Parno yang tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno meraih kepala Risca dan menekan tubuh Risca ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala Risca dihadapkan pada penisnya.
Ayo.. Jangan macammacam non cantik.. Buka mulut kamu, bentak Parno sambil menjambak rambut Risca.
Takut pada bentakan Parno, Risca tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisakisak dia sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Risca.
Hmmphh.., Risca mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Risca menggelembung karena batang kemaluan Parno yang menyumpalnya.
Akhh.. sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga mulut Risca di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal di mulut Risca.
Risca menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat kepala Risca mulai menggerakkan kepala Risca maju mundur, mengocok penisnya dengan mulut Risca. Suara berdecakdecak dari liur Risca terdengar jelas diselingi batukbatuk.
Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Risca, dia nampak benarbenar menikmati. Tibatiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala Risca semakin cepat sambil menjambakjambak rambut Risca. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..
Aakkhh.., Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Risca yang terkejut menerima muntahan cairan itu. Risca berusaha melepaskan batang penis Parno dari dalam mulutnya namun siasia, tangan Parno mencengkeram kuat kepala Risca. Sebagian besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Risca dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari selasela mulut Risca.
Ahh, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang kemaluannya dari mulut Risca.
Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Risca. Demikian pula halnya dengan mulut Risca yang nampak basah oleh cairan yang sama. Risca meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.
Sudah Pak.. Sudahh.. Risca menangis sesenggukan, terengahengah mencoba untuk bernego dengan Parno yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Risca.
Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat tenaganya menjadi kuat berlipatlipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
Parno kemudian memegang tubuh Risca yang masih menangis terisakisak. Risca sadar akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Risca bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Risca di lantai gudang yang kotor itu, Risca yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.
Setelah Risca terbaring, Parno menyingkapkan rok abuabu seragam SMU Risca hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang masih menutupi selangkangan Risca. Kedua mata Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Risca. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Risca. Risca menjerit ketika Parno mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Risca.
Aakkhh.., Risca menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di selangkangannya.
Kedua tangan Risca ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina Risca dengan kasar dan bersemangat.
Aaiihh.., Risca melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh batang penis Parno. Darah pun mengucur dari selasela kemaluan Risca.
Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh.. Parno mendesis nikmat.
Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno langsung menggenjot tubuh Risca dengan kasar.
Oohh.. Oogghh.. Oohh.., Risca mengerangngerang kesakitan. Tubuhnya terguncangguncang akibat gerakan Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot Risca dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Risca yang mengalir deras bercampur darah keperawanannya.
Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Risca yang semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Risca, sampai akhirnya di menit kedelapan, tubuh Parno kembali mengejang keras, uraturatnya menonjol keluar dari tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.
Aahh.. Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Risca yang tengah menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi gerakangerakan Parno.
Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan menggoda dirinya.
Namaku Mirna, aku siswi SMA kelas XI di kota Bandung. Aku berpenampilan ala kadarnya siswi atau anak sekolah, kulitku sawo matang, dan bentuk tubuhku yang seksi dan mempunyai pinggul lumayan besar dan buah dada yang besar seukuran usiaku, rambutku panjang dan bibirku yang sensual.
Aku di sekulahan sebagai pribadi yang ramah dan punya teman banyak, Laki-laki atau perempuan semua senang berteman denganku karena aku lumayan bergaul itu di kelas atau sama adek kelas dan kakak kelas dan aku di kelas salah satu siswi berprestasi dan aku sering mendapatkan peringkat lima besar di kelasku.
Karena aku termasuk siswi berprestasi, Guru-guru pada bangga padaku. Dan di mata pelajaranku yang paling aku favoritkan adalah mata pelajaran Matematika, kebetulan yang mengajar di Mapel itu adalah Bapak Aldo, orangnya ganteng, tinggi badanya kekar, dan beliau belum punya isteri karena usianya 25 tahun.
Suatu hari waktu istirahat aku sedang kumpul-kumpul sama temanku di depan kelas, dan aku haus, lalu aku berjalan ke kantin mau beli minum, Tiba-tiba Pak Aldo keluar dari kantor dan menabrakku karena beliau tidak sengaja,
“Maaf Mirna, aku tadi gak sengaja” Pak Aldo.
“Iya Pak, gak pa-pa tadi aku jalan juga gak lihat-lihat kok pak dan saya keburu-buru,“ jawabku.
“Sebagai perminta maafku mari aku traktir di kantin,” ajakan Pak Aldo.
Akhirnya aku tidak menolak ajaknya, sesambil aku memandangnya karena kegantenganya dan aku sambil menggodanya aku berpura-pura memperbaiki tali sepatuku karena aku pakai rok pendek atau seragamku dan waktu itu terlihat keindahan pahaku. Dan Pak Aldo tersenyum saat memandangi keindahan pahaku dan aku berpura-pura minta maaf, krena aku membelakanginya dan posisiku di depannya Pak Aldo,
“Maaf ya Pak,” kataku.
“Tidak apa-apa Mirna”. Jawab Pak Aldo.
Sebenernya didalam hatiku aku tertawa karena aku ngerjain Pak Aldo.
Pada suatu hari waktu hari minggu aku berniat ke rumahnya Pak Aldo, dan aku berpamitan sama orangtuaku aku ke rumah Guruku bersama teman-temanku menyelesaikan tugas atau PR. Dan aku di izinkan oleh kedua orang tuaku. Ketika Aku sampai rumah Pak Aldo, beliau baru mandi dan aku nunggu di depan rumahnya sambil kuketuk pintu rumahnya dan nunggu pintu rumahnya di buka, akhirnya aku di bukain pintu Pak Aldo kaget,
“Eeeh,,, kamu Mirna ada apa ya, mana temanmu,?” tanya Pak Aldo.
“Gini pak tadi mumpung lewat di jalan ini jadi aku sekalian mampir dan pengen tau rumah Pak Aldo,” jawabku.
Lalu Pak Aldo mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya,
“Oohh. Kirain ada apa kok tumben,” jawab Pak Aldo.
“Maaf rumahku jelek lho Mir, dan berantakan, ni saya tinggal ganti baju dulu ya,?” Pak Aldo.
“Iya pak silahkan,” jawabku.
Memang Pak Aldo hanya mengenakan handuk saja, karena beliau baru selesai mandi. Dan setelah ganti baju Pak Aldo nemuin aku lagi di ruang tamu dan aku mulai bertanya sama Pak Aldo,
“Maksud saya kesini mau tanya tentang materi kemaren pak karena saya kemaren agak ngantuk jadi kurang paham. Oh ya Pak maaf sebelumnya Kok sepi banget rumahnya pak,?” tanyaku.
“Saya ngontrak rumah disini sendirian Mirna,?” jawab Pak Aldo.
Selanjutnya kami berdua membahas materi kemaren dan tiba-tiba gak terasa jam 12 sampai tiba waktunya makan siang dan Pak Aldo bertanya,
“Udah laper belom Mir?” Tanya Pak Aldo.
“Hehehehe lumayan sih Pak,” Jawabku sambil tersenyum malu.
“Kamu tunggu disini bentar ya, aku mau beli makan dulu ke warteg ,” Pak Aldo.
“Oh ya pak, maaf ngrepotin lho,” jawabku.
“Gak pa-pa,” jawab Pak Aldo.
Sewaktu Pak Aldo beli Makan, aku di rumahnya jalan-jalan sambil melihat-lihat kondisi rumah kontrakanya dan sampai kebelakng. Karena bujangan, Tetapi tanpa aku sengaja melihat kamar Pak Aldo pintu kamarnya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat buku-buku koleksi buku matematika di meja kamarnya, lalu aku tidak sengaja melihat majalah dewasa di atas kasurnya lalu aku buka-buka melihat buku itu. Dan ternyata isi buku itu gambar-gambarnya berisi cewek-cowok bugil. Ada juga majalah porno, banyak banget koleksi majalah dewasanya. Aku tidak mengira ternyata Pak Aldo juga suka koleksi seperti itu, dan tiba-tiba aku mendengar suara Pak Aldo dari belakangku,
“Lho,, Ngapain kamu di kamarku Mir,,? Ayo makan dulu, nanti keburu dingin nasinya malah gak enak,” Pak Aldo.
Waktu itu aku kaget banget aku sambil melihat rautan wajahnya dan aku sambil ketakutan. Tapi Pak Aldo kelihatanya gak marah, lalu Majalah kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap sambil grogi, malu, deg-degkan,
“Maa..aa..aaf, ya Pak aku sudah lancang masuk kamar Bapak,” kataku sambil minta maaf.
“Iya gak papa. Kamar saya berantakan, yasudahlah Kita makan aja yuk,” jawab Pak Aldo sambil tersenyum.
akhirnya aku lega Pak Aldo tidak marah-marah padaku atau membentakku, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa maluku belum bisa hilang. Lalu kami makan dan aku bertanya,
“Koleksi bukunya banyak banget Pak, Emang bapak sempat dibacanya,?” Tanyaku.
“Ya, sebenernya sih gak sempet, tapi ini belum semua aku baca. Lumayan buat iseng-iseng kalau tidak bisa tidur,” jawabnya.
Lalu aku tanya lagi sambil memancing pemmbicaraan,
“Kok, tadi ada majalah yang begituan pak?”.
“Yang begituan gimana maksudtnya”.
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum,
“Emm.., Ya, yang begituan, Majalah dewasa atau majalah porno itu lho pak” tanyaku sambil malu dan agak genit dikit.
“Hehehe yang itu toh. Itu dulu yang ngasih teman saya yang dari Batam. Jawab Pak Aldo.
Lalu Pak Aldo sambil agak genit nawarin aku,
“Kalau kamu serius apa masuk kamarku yuk,” Ajakan Pak ALdo.
Akupun tidak menolaknya dan aku segera ke kamarnya dan kuambil majalah dewasa tadi yang berada di atas tempat tidurnya.
Begitu sampai dikamar, Pak Aldo bertanya padaku,
“Betul kamu tidak malu Mir,?”
Aku hanya menggelengkan kepala tanpa rasa maluku tadi. Selanjutnya Pak Aldo dengan santainya membuka celana panjangnya dan aku
melihat sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan badanya dan aku di tidurkan di atas tempat tidurnya. Aku sebenarnya ingin merintih dan berteriak tetapi kutahan.
“Sakit, Mir,?” tanyaku.
Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun hanya terdiam. lAlu Pak Aldo menciumiku terutama leherku dan mulutku semakin lama kecupanya Pak Aldo semakin berani dan menggila sesampai membuka bajuku dan meremas-remas buah dadaku sambil memainkan putingku dan mengulum putingku satu persatu sampai aku keenakan dan setelah memainkan buah dadaku berlanjut melepaskan celana dan celana dalamku.
Dan setelah melepaskan celana dalamku Pak Aldo meciumi memekku dan menjilati pinggiran memekku, Aku hanya bisa mendesah,
”AAaaahh, Hemm.., sshhhhhh”. Desahanku.
Akhirnya aku terangsang dengan perbuatan Guruku tadi, lalu melanjutkan memainkan klitorisku sambil di jilatinya, aku mendesah lagi dan tak kuat menahan nafsu birahiku,
“Ahhhhhhh,,,pak,ahhhhhhhhhhh enak pak” desahanku kembali.
Selanjutnya Pak Aldo berdiri dan aku masih tertidur di atas tempat tidurnya, dan Pak Aldo melebarkan kedua kakiku, dan Pak Aldo mulai memasukkan Batang penisnya ke dalam memekku, beliau kesusahan memasukkanya, karena aku masih perawan.
Tanpa bertanya lagi langsung memasukkanya sempet susah banget awalan, lalu aku bantu pakai air liurku sendiri dan akhirnya bisa masuk,
Blessssssss sambil perlahan, dan Pak Aldo gak berani masukkan penisnya sampai pol, Pak Aldo menggerakan gaya maju mundurnya pelan-pelan, samapi aku memekku ngeluarin darah,
“Ahhhhhhhhhh…emhhhhhhh…sakit pak,” rintihanku sambil kesakitan.
Lama-lama aku keenakan dan terasa memeku gak terasa sempit lagi, dan Pak Aldo memulai gerakanya agak keras, dan memsukan batang penisnya sampai Poll.
“Ahhhhhh…uhhhhhh…pak, mulai enak Pak,, terus pak ayo pak” rintihanku sambil menikmati.
Pak Aldo gerakan maju mundurnya agak keras lagi, sambil meremas-remas payudaraku dan memelintir batang putingku, aku menikmati itu dan rasa nikmat hasratku mulai terwujud, Karena aku menikmati hubungan seksku, udah berjalan kira-kira 15 menit dan Pak Aldo semakin keras dan keras sekali karena beliau mulai klimaks,
“Ahhhhhhhhh…..ahhhhhhhhh….ahhhhhh…Mau keluar ni Mirna,?” sambil keenakan, tanyanya Pak Aldo.
“ohhhhhhhhhhhh…ohhhhhhhhhh..pelan pak,” jawabku.
Pak Aldo terus menggerakan gayanya dan,
“Ahhhhhh,,,Crotttttttttttttttttttttt,,crottttttttttttttttt,,crottttttttttttttttt”
Pak Aldo mengeluarkan air maninya ke atas perutku sampai memuncrat ke buah dadaku. Akhirnya Pak Aldo mulai agak lemas dan dia mencium pipiku dan bibirku sambil tanganku mengelus-elus penisnya Pak Aldo. Dan kami akhirnya tiduran sebentar dan akhirnya aku ngomong sama Pak Aldo sambil tiduran,
“Baru pertama ini saya melakukanya Pak,?” tanyaku.
“Iya Sama, saya juga Mirna,” Jawab Pak Aldo.
Kemudian aku tersenyum padanya dan samapai tertidur, kami tertidur juga masih keadaan bugil semua. Akhirnya aku terbangun jam 17:00 sorejak Pak Aldo mandi bersama. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh aku pun tida merasa canggung lagi ketika Pak Aldo sedang membersihkan memekku yang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang besar.
Setelah kami selesai mandi, Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Aldo memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan kedua orang tuaku dan nama baik sekolah bila kejadian tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.
Semenjak itulah, bila aku ada waktu luang aku datang ke rumah Pak Aldo untuk menikmati ML dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Dan sampai sekarang pun aku masih tetap menikmati hubungan ML walaupun aku sudah kelas XII dan Pak Aldo tidak mengajar kelas XII, dan kami akhirnya kayak ada hubungan pacaran. Dan Pak Aldo pun janji kalau nanti udah lulus kelas XII dan meneruskan kuliah setelah lulus kuliah dia janji padaku untuk menikahiku. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu hubungan seks atau sama guru Matematikaku itu.
Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Risca yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Risca tak mampu lagi berjalan normal hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di lingkungan rumah yang sepi membuat Parno dengan leluasa menuntun tubuh lemah Risca hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah berbisik ke telinga Risca bahwa dia berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Parno pun kemudian meninggalkan Risca dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan Risca yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.
Bandar Online Aman dan Tidak Ada BATASAN LINE BETTING
Hadiah = 4D 3.000.000 3D 400.000 2D 70.000



Tidak ada komentar